Scroll untuk baca artikel
Example 250
Example 728x250
BeritaDaerahJambiNews

UPJA Desa di Persimpangan: Antara Peluang Mekanisasi dan Tantangan Tata Kelola

×

UPJA Desa di Persimpangan: Antara Peluang Mekanisasi dan Tantangan Tata Kelola

Sebarkan artikel ini

Rabecha Maros Framita, S.TP, M,Si dan Tim

MEDIAINVESTIGASIMABES.CO.ID | PROV JAMBI ~ Mekanisasi pertanian kini tidak lagi dimaknai semata sebagai penggunaan alat dan mesin untuk mempercepat proses budidaya. Di balik itu, mekanisasi menyentuh isu yang lebih mendasar: keberlanjutan ekonomi petani, penguatan kelembagaan desa, serta kontribusinya terhadap agenda besar kemandirian pangan nasional yang menjadi program strategis Presiden Republik Indonesia, Rabu (14/01/2026).

Rabecha Maros Framita, S.TP, M,Si.(Dosen UNJA)

Di tengah keterbatasan kepemilikan alat dan mesin pertanian (alsintan) oleh petani kecil, Unit Pelayanan Jasa Alat dan Mesin Pertanian (UPJA) diposisikan sebagai instrumen vital. UPJA diharapkan menjadi solusi kolektif yang menjembatani kebutuhan teknologi pertanian dengan kemampuan ekonomi petani desa.

Hasil penelitian yang dilakukan tim akademisi Universitas Jambi (UNJA) memberikan gambaran faktual sekaligus kritis tentang kondisi tersebut, wartawan Media Investigasi Mabes.co.id mewawancarai Rabecha Maros Framita, S.TP., M.Si. (Ketua Peneliti) bersama Lainatussifa (Anggota) dari UNJA, yang berkolaborasi dengan Fitri Yunda Sari (Anggota) dari Universitas Serasan. Penelitian ini menyoroti kinerja UPJA Cahaya Bintang, pelaku usaha jasa alsintan di Kabupaten Muara Enim.

Secara operasional, UPJA Cahaya Bintang menunjukkan potensi yang signifikan, Tidak hanya menyediakan jasa sewa alat panen, unit ini juga mengelola layanan pascapanen seperti pengeringan, penggilingan, hingga penyimpanan gabah, Rantai layanan tersebut sejatinya memberikan nilai tambah bagi petani sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan bagi UPJA sebagai unit usaha.

Namun, temuan lapangan juga mengungkap sisi lain yang patut menjadi perhatian. Berdasarkan analisis kelayakan usaha, kinerja UPJA Cahaya Bintang masih berada pada batas minimum kelayakan. Artinya, usaha berjalan dan memberikan manfaat nyata, tetapi belum memiliki fondasi yang cukup kuat untuk tumbuh dan berkembang secara signifikan.

“Masalah utamanya bukan pada minimnya permintaan atau ketersediaan alat, melainkan pada efisiensi pengelolaan dan strategi pengembangan usaha,” ungkap Rabecha Maros Framita, Kondisi ini menunjukkan adanya celah struktural dalam tata kelola UPJA yang berpotensi menghambat perannya sebagai motor mekanisasi pertanian desa.

Penelitian komparatif yang dilakukan tim juga membandingkan UPJA di sejumlah daerah lain. Hasilnya, UPJA yang menerapkan pencatatan keuangan berbasis digital, perawatan mesin terjadwal, serta diversifikasi layanan alsintan terbukti memiliki efisiensi operasional yang lebih baik. Digitalisasi yang dimaksud tidak selalu kompleks, bahkan sistem pencatatan sederhana dan pemanfaatan media digital untuk promosi jasa dinilai mampu meningkatkan transparansi dan memperluas jangkauan layanan kepada petani.

Selain aspek manajerial, kemitraan kelembagaan menjadi faktor krusial dalam keberlanjutan UPJA. UPJA yang memiliki kerja sama formal dengan lembaga keuangan, koperasi, pemerintah daerah, maupun BUMDes cenderung lebih kuat dari sisi permodalan dan pendampingan usaha. Sebaliknya, UPJA yang berjalan sendiri tanpa jejaring kelembagaan berisiko stagnan dan rentan terhadap fluktuasi ekonomi.

Temuan ini menegaskan bahwa penguatan UPJA tidak bisa dipandang sebagai program teknis semata, melainkan harus ditempatkan dalam kerangka strategi pembangunan pertanian daerah, UPJA perlu diarahkan menjadi unit usaha yang profesional, adaptif, dan akuntabel, dalam konteks ini, peran perguruan tinggi melalui riset terapan dan pengabdian kepada masyarakat menjadi elemen penting untuk mendorong transformasi kelembagaan UPJA.

Kasus UPJA Cahaya Bintang menjadi cermin bahwa mekanisasi pertanian sejatinya bukan hanya soal mesin, tetapi tentang tata kelola, teknologi, dan kemitraan, Dengan pembenahan organisasi, pemanfaatan digitalisasi yang tepat, serta penguatan jejaring kelembagaan, UPJA berpeluang besar menjadi penggerak ekonomi desa dan penopang kesejahteraan petani.

“Jika dikelola secara serius dan berkelanjutan, UPJA dapat menjadi salah satu pilar penting dalam mewujudkan kemandirian pangan nasional sebagaimana dicita-citakan Presiden Prabowo,” tutup Rabecha Maros Framita.

( PM – Tim Red )

MABESMEDIAINVESTIGASI
Author: MABESMEDIAINVESTIGASI

MEDIAINVESTIGASIMABES.CO.ID dalam menjalankan tugas, wajib memiliki Tanda Pengenal (Kartu Pers) yang masih aktif, Surat Tugas dan namanya tercantum dalam Box Redaksi. Laporkan segera bila ada tindakan melanggar Hukum dan Kode Etik Jurnalistik, yang mengatasnamakan MEDIAINVESTIGASIMABES.CO.ID.

Example 300250

Tinggalkan Balasan