MEDIAINVESTIGASIMABES.CO.ID | PADANG, SULIT AIR (SUMATERA BARAT) ~ Konferensi Nasional Ikatan Pemuda Pelajar Sulit Air (IPPSA) ke-33 berlangsung dengan penuh semangat di Nagari Sulit Air, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Kegiatan ini menjadi momentum penting yang mempertemukan pemuda dan pelajar Sulit Air dari berbagai daerah di Indonesia dalam satu forum strategis yang sarat nilai kebersamaan dan penguatan organisasi, (29/3/2026).
Sejak pagi hari, suasana Aula Gedung Serbaguna PSA Gando sudah dipadati oleh peserta yang hadir sebagai utusan dari 31 Dewan Pimpinan Cabang (DPC). Sekitar 100 peserta mengikuti kegiatan ini dengan antusias, mencerminkan kuatnya ikatan emosional pemuda Sulit Air, baik yang berada di kampung halaman maupun di perantauan.

Konferensi yang berlangsung sejak pukul 09.00 WIB hingga 18.30 WIB ini disusun dalam rangkaian sidang yang sistematis dan terstruktur. Sidang pleno menjadi pembuka dengan agenda pembahasan tata tertib serta penetapan pimpinan sidang tetap, yang dipimpin oleh pengurus harian DPP IPPSA, yakni Ilham Wahyudi, Wanda, dan Farhan Rais.
Dalam sidang pleno tersebut, forum menetapkan pimpinan sidang tetap yang terdiri dari Fakhru Rozi, Hasbil Khairi, dan Defi Gusman Sari. Sementara itu, Farhan Rais bertindak sebagai koordinator konferensi, dengan Ari Wibowo sebagai steering committee yang memastikan jalannya konferensi tetap terarah dan sesuai dengan mekanisme organisasi.
Rangkaian konferensi dilanjutkan dengan beberapa tahapan sidang, mulai dari sidang pembacaan laporan pertanggungjawaban, sidang pembahasan dan pengesahan LPJ, hingga sidang komisi. Komisi A membahas Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), sementara Komisi B membahas program kerja IPPSA ke depan, termasuk penambahan cabang baru serta pembentukan tim penyempurnaan AD/ART.
Selain menjadi forum pengambilan keputusan, konferensi ini juga menjadi ruang silaturahmi yang hangat bagi seluruh peserta. Momentum ini semakin bermakna karena bertepatan dengan Musyawarah Besar (MUBES) ke-24 serta tradisi pulang basamo, yang mempertemukan generasi muda dengan para tokoh dan perantau dalam satu ikatan kekeluargaan yang kuat.
Dalam konteks yang lebih luas, IPPSA hadir sebagai wadah pemuda yang tidak terpisahkan dari peran Sulit Air Sepakat (SAS) sebagai organisasi induk. Relasi ini kerap dianalogikan sebagai hubungan orang tua dan anak, di mana SAS menjadi fondasi nilai dan arah, sementara IPPSA menjadi ruang tumbuh dan berkembangnya generasi muda dalam melanjutkan estafet organisasi.
Dengan dinamika sidang yang aktif, diskusi yang konstruktif, serta semangat kebersamaan yang terasa sepanjang kegiatan, Konferensi IPPSA ke-33 tidak hanya menjadi agenda rutin organisasi, tetapi juga menjadi simbol nyata konsolidasi dan regenerasi pemuda Sulit Air dalam menghadapi tantangan masa depan.
Laporan Pertanggungjawaban dan Agenda Organisasi Cerminkan Kinerja Nyata IPPSA
Memasuki agenda inti konferensi, laporan pertanggungjawaban (LPJ) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) IPPSA periode 2024–2026 menjadi salah satu sesi yang paling krusial dan dinanti oleh peserta. Penyampaian LPJ dipimpin langsung oleh Ketua Umum Ilham Wahyudi, yang memaparkan secara komprehensif capaian, program kerja, serta dinamika organisasi selama masa kepemimpinannya.
Dalam pemaparannya, Ilham Wahyudi menegaskan bahwa LPJ tidak sekadar menjadi formalitas organisasi, melainkan bentuk tanggung jawab moral dan transparansi kepada seluruh anggota. Setiap kegiatan yang telah dilaksanakan dipaparkan secara terbuka, disertai dengan evaluasi dan catatan kritis sebagai bahan perbaikan ke depan.
Selama periode kepengurusan 2024–2026, DPP IPPSA mencatat sejumlah capaian strategis yang menjadi fondasi penguatan organisasi. Salah satunya adalah pelantikan berbagai Dewan Pimpinan Cabang (DPC) di sejumlah daerah, yang menunjukkan adanya perluasan jaringan sekaligus konsolidasi organisasi di tingkat nasional.
Selain itu, pelaksanaan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) menjadi salah satu agenda penting yang berhasil diselenggarakan. Forum ini berfungsi sebagai ruang koordinasi antara DPP dan DPC dalam menyamakan arah gerak organisasi, sekaligus merumuskan kebijakan strategis yang berdampak langsung terhadap perkembangan IPPSA.
Kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) juga menjadi bagian penting dalam LPJ, sebagai bentuk komitmen IPPSA dalam mencetak kader-kader muda yang memiliki kapasitas kepemimpinan, integritas, serta pemahaman terhadap nilai-nilai adat dan organisasi. Program ini dinilai sebagai investasi jangka panjang bagi keberlanjutan IPPSA.
Tidak hanya itu, salah satu pencapaian yang mendapat perhatian khusus adalah penyusunan dan penerbitan buku sejarah IPPSA. Inisiatif ini menjadi langkah strategis dalam mendokumentasikan perjalanan organisasi sejak awal berdiri, sekaligus menjadi sumber rujukan bagi generasi berikutnya dalam memahami identitas dan nilai perjuangan IPPSA.
Dalam jalannya sidang, LPJ tidak hanya dibacakan, tetapi juga dibahas secara kritis oleh peserta konferensi. Setelah melalui diskusi dan pertimbangan bersama, laporan pertanggungjawaban DPP IPPSA periode 2024–2026 dinyatakan diterima dengan syarat, yakni adanya penyempurnaan dan pelengkapan laporan pada beberapa bagian tertentu.
Respons peserta terhadap LPJ menunjukkan tingginya partisipasi dan kepedulian terhadap arah organisasi. Diskusi berlangsung dinamis, dengan berbagai masukan konstruktif yang mencerminkan semangat kolektif dalam menjaga keberlanjutan dan kualitas IPPSA sebagai organisasi pemuda yang progresif.
Dengan demikian, LPJ yang disampaikan tidak hanya menjadi laporan administratif, tetapi juga menjadi refleksi nyata atas kinerja DPP IPPSA selama satu periode. Forum ini sekaligus menjadi pijakan penting dalam menentukan langkah strategis dan arah kepemimpinan organisasi ke depan.
Musyawarah Mufakat Jadi Landasan Penetapan Kepemimpinan Baru IPPSA
Puncak dari rangkaian Konferensi IPPSA ke-33 ditandai dengan proses penetapan kepemimpinan baru organisasi. Dalam forum ini, IPPSA kembali menegaskan komitmennya terhadap nilai-nilai adat Minangkabau dengan tidak menggunakan sistem voting, melainkan mengedepankan musyawarah dan mufakat sebagai dasar pengambilan keputusan.
Prinsip tersebut sejalan dengan falsafah Minangkabau “bulek aia dek pambuluah, bulek kato dek mufakaik”, yang menjadi pedoman dalam mencapai kesepakatan bersama. Nilai ini tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga diimplementasikan secara nyata dalam mekanisme organisasi IPPSA yang menjunjung tinggi kebersamaan dan kesepahaman.
Proses pencalonan diawali dari masing-masing Dewan Pimpinan Cabang (DPC) yang memiliki hak untuk mengusulkan satu nama kandidat. Nama-nama tersebut kemudian dihimpun dan disampaikan kepada seluruh peserta konferensi sebagai bentuk transparansi dan partisipasi kolektif dalam menentukan arah kepemimpinan IPPSA ke depan.
Dari hasil pencalonan tersebut, muncul empat kandidat yang dinilai memiliki kapasitas dan rekam jejak organisasi yang baik, yaitu Ilham Wahyudi, Rinaldy Yogi Pratama, Ari Wibowo, dan Fakhru Rozi. Keempat kandidat ini selanjutnya diberikan ruang untuk melakukan diskusi bersama dalam satu forum khusus sebelum keputusan akhir diambil.
Diskusi berlangsung dalam suasana tertutup dan penuh tanggung jawab, dengan mengedepankan semangat kekeluargaan. Para kandidat membahas berbagai aspek penting, mulai dari kesiapan memimpin, visi organisasi, hingga komitmen dalam membawa IPPSA menjadi lebih progresif dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Dalam jalannya proses musyawarah, pimpinan sidang yang terdiri dari Fakhru Rozi, Hasbil Khairi, dan Defi Gusman Sari memainkan peran penting dalam menjaga kondusivitas forum. Dengan arahan yang sistematis dan bijak, proses musyawarah dapat berjalan dengan tertib dan tetap berpegang pada tata tertib serta nilai-nilai organisasi.
Setelah melalui rangkaian diskusi dan pertimbangan yang matang, forum akhirnya mencapai kesepakatan bulat untuk menetapkan kepemimpinan baru IPPSA periode 2026–2028. Rinaldy Yogi Pratama, yang sebelumnya menjabat sebagai Ketua DPC IPPSA Bekasi, secara resmi dikukuhkan sebagai Ketua Umum IPPSA ke-31 dalam Konferensi IPPSA ke-33.
Penetapan tersebut disahkan pada Minggu, 22 Mei 2026 M bertepatan dengan 2 Syawal 1447 H, di Aula Gedung Serbaguna PSA Gando, Nagari Sulit Air. Keputusan yang dihasilkan melalui musyawarah mufakat ini menjadi simbol kuat bahwa IPPSA tetap konsisten menjaga nilai adat sekaligus mampu beradaptasi dengan dinamika organisasi modern.
Lebih dari sekadar pergantian kepemimpinan, proses ini mencerminkan keberhasilan regenerasi dalam tubuh IPPSA. Kepemimpinan baru diharapkan mampu melanjutkan estafet organisasi dengan semangat kolaborasi, inovasi, serta tetap berpegang teguh pada nilai-nilai budaya Minangkabau sebagai fondasi utama dalam setiap langkah ke depan.
Kata Kunci : #IPPSA #KonferensiIPPSA33 #SulitAir #MusyawarahMufakat #RegenerasiPemuda Prosesi simbolis serah terima kepemimpinan dari ketua sebelumnya kepada ketua terpilih Para peserta Konferensi IPPSA ke-33 tahun 2026 yang berasal dari berbagai DPC seluruh Indonesia.
Penulis : Yoga Deswat, Ari Wibowo
Reporter and editor olid









