​MEDIAINVESTIGASIMABES.CO.ID | LUWUK BANGGAI (SULAWESI TENGAH) – Sektor pertanian di Desa Siuna, Kecamatan Pagimana, Kabupaten Banggai, kini berada di ambang kehancuran. Lahan persawahan yang dulunya menjadi sumber penghidupan warga dan lumbung padi lokal, kini terbengkalai dan tidak lagi dapat digarap. Diduga kuat, hal ini merupakan dampak sistemik dari aktivitas perusahaan nikel yang beroperasi di wilayah tersebut.

​Berdasarkan hasil investigasi di lapangan, kondisi sawah saat ini sangat memprihatinkan. Saluran irigasi yang seharusnya mengalirkan air jernih, terkadang berubah menjadi keruh dan kecokelatan. Selain masalah kualitas air, para petani juga mengeluhkan ledakan populasi hama tikus yang merusak sisa-sisa tanaman yang ada.
​Salah seorang warga pengelola sawah yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan rasa kecewanya. Ia menyebutkan bahwa kesejahteraan yang diimpikan warga melalui hasil panen kini sirna.

​”Seharusnya kami sudah sejahtera dengan hasil panen beras yang berlimpah. Tapi sekarang, sawah tidak bisa lagi digunakan. Air masuk ke sawah sudah keruh, dan hama tikus jauh lebih banyak dari sebelumnya,” ujarnya dengan nada getir.
​Masyarakat meminta pihak perusahaan nikel terkait untuk tidak menutup mata terhadap degradasi lingkungan yang terjadi. Aktivitas industri seharusnya berjalan beriringan dengan kesejahteraan warga sekitar, bukan justru mematikan mata pencaharian utama mereka.
​Warga mendesak agar perusahaan segera melakukan langkah-langkah mitigasi dampak lingkungan dan memberikan kompensasi yang layak atas kerugian gagal tanam yang dialami petani selama ini.
​Kondisi ini memicu reaksi keras dari para petani. Melalui laporan ini, masyarakat meminta perhatian serius dari:
​Bupati Banggai (Kepala Daerah): Untuk segera meninjau langsung kondisi lapangan di Desa Siuna.
​DPRD Kabupaten Banggai: Agar menjalankan fungsi pengawasan terhadap izin lingkungan perusahaan nikel di wilayah tersebut.
​Dinas Terkait (Lingkungan Hidup & Pertanian): Untuk melakukan uji laboratorium pada sumber air dan mendesak pihak perusahaan bertanggung jawab secara materil maupun pemulihan ekosistem.
​Hingga berita ini diturunkan, lahan persawahan tersebut terpantau masih dibiarkan menganggur tanpa ada kejelasan solusi dari pihak-pihak terkait. Petani berharap pemerintah tidak tinggal diam melihat nasib masyarakat yang kian terhimpit di tengah ekspansi industri pertambangan.
( Dave Quison Adante – Tim Red )









