MEDIAINVESTIGASIMABES.CO.ID | JAKARTA — Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap modus penipuan terbaru yang dikenal sebagai “telepon hening”, sebuah teknik yang memanfaatkan kecanggihan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk melakukan kejahatan berbasis manipulasi suara, (18/4/2026).
Modus ini dijalankan dengan cara pelaku menghubungi calon korban melalui panggilan telepon tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Keheningan tersebut bukan tanpa tujuan, melainkan strategi untuk memancing korban berbicara lebih dahulu. Suara korban yang terekam, meski hanya dalam durasi singkat, kemudian diolah menggunakan teknologi voice cloning untuk meniru karakteristik suara secara presisi.
Dengan rekaman tersebut, pelaku berpotensi melakukan penipuan lanjutan, terutama dengan menyasar orang-orang terdekat korban. Suara hasil kloning dapat digunakan untuk meyakinkan keluarga atau kerabat agar memberikan uang, data pribadi, atau informasi sensitif lainnya.
Fenomena ini menunjukkan eskalasi kejahatan digital yang semakin kompleks dan memanfaatkan kemajuan teknologi. Oleh karena itu, pendekatan preventif menjadi langkah utama dalam meminimalisir risiko.
Langkah Antisipatif: Protokol “Silent First”
Sebagai upaya perlindungan diri, masyarakat dianjurkan menerapkan protokol “Silent First”, yaitu langkah sederhana namun efektif dalam menghadapi panggilan dari nomor tidak dikenal:
- Tidak langsung berbicara saat menerima telepon dari nomor asing—biarkan penelepon memulai percakapan.
- Menghindari pengucapan kata-kata umum seperti “halo”, “iya”, atau “siapa ini?” secara berulang.
- Menerapkan batas waktu 3–5 detik—jika tidak ada respons, segera akhiri panggilan dan blokir nomor tersebut.
- Memanfaatkan aplikasi identifikasi nomor untuk mendeteksi potensi spam atau penipuan.
- Menyepakati kata sandi keluarga sebagai metode verifikasi tambahan dalam komunikasi darurat.
Bagi masyarakat yang merasa telah menjadi target atau korban, disarankan untuk segera menginformasikan kepada keluarga dan lingkungan terdekat guna mencegah potensi penipuan lanjutan.
Kasi Intel Satbrimob Polda Jawa Barat menegaskan bahwa literasi digital dan kewaspadaan kolektif merupakan kunci utama dalam menghadapi ancaman kejahatan berbasis teknologi. Sinergi antara masyarakat dan aparat diharapkan mampu menekan ruang gerak pelaku serta menciptakan lingkungan digital yang lebih aman. ( Rianto – Red )









