Oleh: Afrizaldi Noerdin (kaperwil Sumbar)
MEDIAINVESTIGASIMABES.CO.ID | BATUSANGKAR (SUMATERA BARAT) ~ Praktisi Pertanian dan Pemerhati Lingkungan Hidup / Posyantek Nasional Kecamatan Rambatan, Tanah Datar
Persoalan bangau dan kelelawar (kaluang) yang bersarang di pohon-pohon besar di tengah pemukiman padat penduduk kini bukan lagi sekadar soal kebisingan dan bau. Ini soal kesehatan publik.

Dikutip dari berbagai sumber kesehatan dan lingkungan, guano atau kotoran kedua satwa ini menyimpan mikroorganisme patogen yang sangat berbahaya. Jamur, bakteri, dan parasit di dalamnya berisiko memicu gangguan kesehatan serius jika terhirup atau mencemari makanan.
Ancaman utamanya adalah infeksi saluran pernapasan seperti histoplasmosis dan kriptokokosis, gangguan pencernaan akibat salmonellosis, hingga alergi paru permanen. Pada kelelawar, risikonya bahkan lebih besar: paparan virus zoonosis, bakteri patogen, serta kandungan asam tinggi dan gas amonia yang dapat merusak struktur bangunan dan mengganggu pernapasan warga.
Sayangnya, respons warga selama ini sering keliru: pohon dibakar, satwa diracun, atau sarang ditembak. Cara-cara destruktif ini justru merusak ekosistem dan melanggar prinsip konservasi.
Jika bangau dan kelelawar sudah terlanjur bersarang di pohon padat penduduk, halau dengan cara yang humanis dan ramah lingkungan. Jangan dibunuh, buat mereka tidak nyaman agar pindah sendiri.
BAHAN & ALAT :







Berikut tutorial sederhana berbasis kearifan lokal yang telah kami terapkan di Tanah Datar:
TUTORIAL MENGUSIR KELELAWAR DAN BURUNG BANGAU DI POHON BESAR
A. Bahan dan Alat:
- Ember seng / belek ukuran 15 liter
- Sabut kelapa muda dan sabut kelapa kering
- Belerang
- Kawat
- Tali yang kuat
B. Cara Membuat:
- Lubangi bagian pinggir atas ember seng dengan diameter 10 cm sebagai celah keluarnya asap.
- Uraikan sabut kelapa kering dan muda menjadi serpihan kecil.
- Tumbuk belerang hingga menjadi serpihan halus.
- Bentuk kawat untuk mengikat tangkai ember sebagai dudukan tali penggantung.
C. Cara Merakit:
- Masukkan sabut kelapa muda sebagai lapisan dasar.
- Letakkan sabut kelapa kering di atasnya, sisakan satu lubang sebagai celah memasukkan api.
- Taburkan belerang, lalu tutup kembali dengan sabut muda hingga batas bibir ember.
- Lilitkan kawat pada tangkai ember dan ikatkan tali penggantung.
D. Cara Pemasangan:
- Panjat pohon dengan mengutamakan keselamatan.
- Gantungkan beberapa ember di dahan pohon, lalu nyalakan hingga mengeluarkan asap.
- Lakukan pengasapan (fogging) 3 kali seminggu selama satu bulan. Asap belerang yang menyengat akan membuat koloni merasa tidak nyaman dan pindah bersarang secara alami.
Catatan penting: Lakukan pada sore hari menjelang malam (pukul 18.00 – 19.00), jauhkan dari atap yang mudah terbakar, dan wajib gunakan masker N95 serta sarung tangan. Tujuan kita menghalau, bukan membunuh.
Pada akhirnya, konflik antara manusia dan satwa liar di pemukiman padat adalah cerminan dari menyempitnya habitat alami mereka. Solusinya bukan dengan memusnahkan, melainkan dengan mengelola ruang hidup bersama secara bijak. Dengan cara humanis, kesehatan warga terjaga, bangunan aman, dan kelestarian alam tetap terjaga.
Selamat mencoba.
( Afrizaldi Noerdin /Kaperwil Sumbar )










