MEDIAINVESTIGASIMABES.CO.ID | ACEH TAMIANG – Bagi sebagian orang, lumpur sisa banjir bandang adalah residu kelam yang menyisakan trauma dan kotoran. Namun, di tangan dingin masyarakat Kampung Selamat, Kecamatan Tenggulun, lumpur tebal yang menyelimuti pemukiman itu kini berubah wajah menjadi “emas hitam” yang menjanjikan kehidupan.

Pemandangan di salah satu sudut Aceh Tamiang pada Senin (26/1/2026) tampak berbeda. Bripka Sukma Hadi, seorang Bhabinkamtibmas dari Polsek Simpang Kiri, terlihat telaten memeriksa barisan tanaman yang mulai menghijau. Menariknya, tanaman-tanaman ini tidak tumbuh di atas pupuk mahal, melainkan di atas hamparan lumpur sisa bencana yang melanda wilayah itu dua pekan silam.
Ini bukan kebetulan. Fenomena ini adalah buah dari gagasan inovatif Kapolda Aceh, Irjen Pol. Drs. Marzuki Ali Basyah, yang melihat potensi di balik musibah.
Menanam Asa di Atas Sisa Bencana
Dua minggu telah berlalu sejak bibit-bibit pertama disemai. Hasilnya mengejutkan: tanaman tumbuh lebih subur dan sehat dibandingkan media tanam biasa. Lumpur banjir, yang secara alami membawa endapan sedimen kaya nutrisi dari hulu sungai, ternyata menjadi media tanam alternatif yang sangat produktif.
”Monitoring ini penting untuk membuktikan bahwa apa yang kita anggap limbah bencana sebenarnya adalah berkah yang tertunda,” ujar Bripka Sukma Hadi saat mengevaluasi lahan di Kampung Selamat.
Gagasan Irjen Pol. Marzuki Ali Basyah ini melampaui sekadar bantuan fisik. Saat mengunjungi Aceh Tamiang beberapa hari lalu, jenderal bintang dua ini tidak hanya membawa simpati, tapi juga solusi konkret berupa ribuan benih dan polibag. Tujuannya jelas: mendorong pemulihan ekonomi berbasis lingkungan dari halaman rumah warga sendiri.
Filosofi Bangkit Lebih Kuat
Bagi Kapolda Aceh, pemulihan pascabencana tidak boleh berhenti saat air surut dan bantuan logistik habis. Fase tanggap darurat harus segera disambung dengan kemandirian.
”Kita ingin masyarakat tidak hanya pulih, tetapi juga mampu bangkit dan mandiri. Memanfaatkan tanah lumpur sisa banjir adalah model pemulihan ekonomi yang aplikatif dan berkelanjutan,” ungkap Irjen Pol. Marzuki Ali Basyah dengan nada optimistis.
Filosofi ini mengajarkan warga bahwa bencana memang merenggut banyak hal, namun ia juga meninggalkan “modal” bagi mereka yang mau mengolahnya. Dengan pendekatan ini, masyarakat terdampak tidak lagi dipandang sebagai korban yang pasif, melainkan aktor utama dalam pemulihan ekonomi lokal.
Transformasi Ekonomi Rumah Tangga di Fase Pemulihan
Kini, polibag-polibag berisi lumpur subur mulai menghiasi teras-teras rumah warga di Kecamatan Tenggulun. Tanaman sayuran dan palawija yang tumbuh di sana menjadi simbol ketangguhan masyarakat Aceh Tamiang.
Inovasi ini membuktikan bahwa dengan sedikit kreativitas dan keberanian untuk mencoba, sisa-sisa bencana bisa disulap menjadi sumber pangan mandiri. Apa yang dimulai sebagai ide dari markas kepolisian, kini telah berakar di tanah rakyat, membuktikan bahwa harapan selalu bisa tumbuh, bahkan dari lumpur yang paling pekat sekalipun.
[ Kaperwil Aceh — Andre ]









