MEDIAINVESTIGASIMABES.CO.ID | JAYAPURA (PAPUA) — Sebuah momentum besar tengah bergerak dari Timur Indonesia. Slogan “Dari Tanah Papua untuk Papua” kini bukan sekadar kalimat puitis, melainkan sebuah tuntutan nyata atas keadilan kepemimpinan. Aspirasi agar Orang Asli Papua (OAP) menduduki posisi strategis di pucuk pimpinan PT Freeport Indonesia (PTFI) kini semakin kencang disuarakan.
Memutus Rantai Dominasi, Mencari Keadilan Representasi
Sejarah mencatat, posisi Presiden Direktur PT Freeport Indonesia selama puluhan tahun selalu diisi oleh tokoh-tokoh dari luar Papua. Berikut adalah rekam jejak kepemimpinan PTFI dalam tiga dekade terakhir:
Periode:
Nama Presiden Direktur
1995 – 2005
Rozik B. Soetjipto
2005 – 2015
Armando Mahler
2016 – 2017
Chappy Hakim
2018 – Sekarang
Tony Wenas
Hingga saat ini, belum ada satu pun putra daerah yang diberi kepercayaan untuk menakhodai perusahaan tambang raksasa tersebut. Kondisi ini memicu kritik tajam dari berbagai elemen di Papua yang menilai adanya ketimpangan representasi di tanah sendiri.
Suara dari Akar Rumput: Tanah Kami, Masa Depan Kami
Tokoh masyarakat dan lembaga adat menegaskan bahwa tuntutan ini bukan sekadar soal jabatan, melainkan tentang kehormatan dan keberlanjutan. Keterlibatan OAP di level kebijakan tertinggi dianggap sebagai kunci untuk menciptakan harmoni antara industri berskala global dengan kearifan lokal.
“Tanah Papua adalah rumah kami. Sudah saatnya kami ikut menentukan arah masa depan di tanah sendiri,” tegas salah satu perwakilan masyarakat adat dengan nada optimis.
Frans Pigome: Figur Harapan Baru
Di tengah menguatnya desakan tersebut, nama Frans Pigome muncul sebagai figur sentral yang dijagokan. Beliau dinilai bukan hanya sebagai “simbol” putra daerah, tetapi merupakan sosok profesional yang memiliki:
• Kapasitas Teknis: Pemahaman mendalam tentang industri pertambangan
• Pengalaman Strategis: Rekam jejak yang mumpuni dalam manajemen organisasi
Kedekatan Emosional: Memiliki pemahaman sosiokultural yang kuat untuk menjembatani kepentingan perusahaan dan masyarakat lokal.
Sejumlah elemen masyarakat meyakini bahwa kehadiran pemimpin seperti Frans Pigome akan membawa transformasi positif.
Kepemimpinan putra daerah dianggap sebagai langkah strategis untuk menghadirkan pembangunan yang lebih inklusif, transparan, dan berpihak pada kesejahteraan rakyat Papua.
Aspirasi ini merupakan panggilan sejarah bagi PT Freeport Indonesia dan pemerintah pusat untuk membuktikan komitmen mereka terhadap pemberdayaan Orang Asli Papua di level manajerial tertinggi.
( Dave Quison Adante )









