MEDIAINVESTIGASIMABES.CO.ID | KETAPANG (Kalimantan Barat) ~ Sejumlah warga Desa Pelanjau Jaya, Kecamatan Marau, Kabupaten Ketapang, memasang spanduk bertuliskan “DICARI” yang memuat nama Yustinus Lambang Setyo Putro, Lisnawati, Farid, dan Ondra Utama. Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk pernyataan sikap masyarakat yang menginginkan para petinggi perusahaan tersebut hadir langsung menemui warga yang selama ini mengaku terdampak konflik lahan.
Spanduk yang dipasang di kawasan perkebunan kelapa sawit itu menarik perhatian banyak pihak. Setelah melakukan penelusuran dan konfirmasi kepada sejumlah warga, media memperoleh informasi bahwa nama-nama yang tercantum dalam spanduk tersebut merupakan pejabat penting yang terkait dengan operasional PT Budidaya Agro Lestari (PT BAL) dan PT Sandika Nata Palma (PT SNP) yang berada dalam kelompok usaha Minamas Group.
Menurut warga, pemasangan spanduk tersebut bukan tanpa alasan. Mereka mengaku selama bertahun-tahun memperjuangkan persoalan lahan, namun belum pernah sekalipun bertemu ataupun mengenal secara langsung sosok yang disebut sebagai pengambil keputusan tertinggi di perusahaan.
“Bagaimana kami mau kenal dengan orang itu, sedangkan wajahnya saja tidak pernah kami ketahui. Padahal sudah berapa tahun perusahaan menguasai lahan-lahan kami di Desa Pelanjau Jaya. Aneh rasanya seorang petinggi perusahaan tidak pernah bertemu dengan masyarakat yang mengaku sebagai pemilik tanah atau pemegang alas hak,” ujar salah seorang warga.
Dari informasi yang dihimpun masyarakat, mereka baru mengetahui bahwa Yustinus Lambang Setyo Putro merupakan Presiden Direktur yang berkaitan dengan kedua perusahaan tersebut. Selain itu, warga juga menyebut bahwa mereka memperoleh informasi mengenai keterkaitan pemegang saham pada perusahaan-perusahaan yang beroperasi di wilayah tersebut.
Bagi masyarakat, kehadiran langsung para petinggi perusahaan dianggap penting untuk membuka ruang komunikasi dan menjelaskan berbagai persoalan yang selama ini menjadi sumber konflik antara warga dengan perusahaan.
Warga menilai bahwa penyelesaian konflik agraria tidak cukup hanya melalui perwakilan atau komunikasi administratif semata. Mereka berharap para pemegang kebijakan di tingkat manajemen tertinggi turun langsung ke lapangan untuk mendengar aspirasi masyarakat.
“Harapan kami sederhana. Petinggi PT BAL dan PT SNP harus turun menghadap masyarakat. Jangan hanya berdiam diri di luar Ketapang. Kalau memang peduli kepada masyarakat dan memiliki niat baik untuk menyelesaikan persoalan ini, datanglah dan duduk bersama masyarakat pemegang alas hak untuk berdialog secara terbuka,” kata salah seorang tokoh masyarakat.
Selain itu, warga juga berharap pihak-pihak yang memiliki keterkaitan kepemilikan dan pengendalian perusahaan turut mengambil peran dalam mendorong penyelesaian konflik yang selama ini terjadi.
Menurut masyarakat, penyelesaian yang adil hanya dapat tercapai apabila seluruh pihak yang memiliki kewenangan dan pengaruh terhadap kebijakan perusahaan bersedia terlibat secara langsung dalam proses dialog.
Aksi pemasangan spanduk tersebut berlangsung secara damai dan menjadi simbol keinginan masyarakat untuk memperoleh perhatian dari para pengambil keputusan tertinggi perusahaan.
Hingga berita ini diterbitkan, belum diperoleh keterangan resmi dari pihak PT Budidaya Agro Lestari (PT BAL), PT Sandika Nata Palma (PT SNP), maupun pihak-pihak yang namanya tercantum dalam spanduk tersebut.
Masyarakat berharap langkah mereka dapat menjadi perhatian sehingga terbuka ruang komunikasi yang lebih konstruktif demi mencari jalan keluar atas persoalan lahan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun di Desa Pelanjau Jaya.
“Kami tidak mencari konflik. Kami hanya ingin didengar dan ingin bertemu langsung dengan orang-orang yang memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan. Jika memang ada itikad baik, mari duduk bersama dan selesaikan persoalan ini secara bermartabat,” tutup salah seorang perwakilan masyarakat.
(Al badri : Kaperwil Kalbar)









