Ketua Yayasan Purnama Assoc.Prof.Dr.Ade Oktarino, S.Kom,M.S.I bersama Sepuh, Pendiri dan Pengurus Yayasan Purnama Jambi
MEDIAINVESTIGASIMABES.CO.ID | PROV.
JAMBI — Yayasan Purna Usaha Tama (Purnama) mulai menata langkah baru dalam pengembangan pendidikan di Kota Jambi. Lembaga pendidikan yang telah berdiri sejak 1979 tersebut kini memasuki fase transformasi dengan fokus pada penguatan tata kelola, peningkatan mutu pembelajaran, pemanfaatan teknologi, serta pengembangan program unggulan di setiap satuan pendidikan.

Sekolah SMA Purnama di masa kejayaannya saat itu
Saat ini, Yayasan Purnama masih aktif menaungi tiga sekolah, yakni SMP Purnama 3, SMA Purnama 2, dan SMK Purnama 1, yang berlokasi di Jl. Purnama, Kelurahan Suka Karya, Kecamatan Kota Baru, Kota Jambi.
Transformasi tersebut dipimpin oleh Assoc. Prof. Dr. Ade Oktarino, S.Kom., M.S.I., akademisi sekaligus praktisi yang kini menjadi bagian dari regenerasi kepemimpinan Yayasan Purnama.

Ade merupakan cucu dari H.M. Zen Datuk Bandaro Basa, salah satu pendiri Yayasan Purnama Jambi. Ia melihat keberlanjutan Purnama bukan hanya sebagai persoalan mempertahankan lembaga yang telah berdiri selama puluhan tahun, melainkan bagaimana membuatnya kembali relevan dengan kebutuhan pendidikan masa kini.
“Purnama memiliki sejarah panjang dan itu merupakan modal yang sangat besar. Namun sejarah harus diterjemahkan menjadi energi untuk bergerak maju. Kami ingin nilai yang diwariskan para pendiri tetap hidup, tetapi cara kita mengelola pendidikan harus terus berkembang mengikuti zaman,” ujar Ade saat di konfirmasi di Kantor Purnama Kamis (13/08/2026).
Fokus pada Pembenahan Mutu
Menurut Ade, perubahan lingkungan pendidikan saat ini menuntut setiap sekolah memiliki keunggulan yang jelas.
Perkembangan teknologi, perubahan kebutuhan dunia kerja, meningkatnya harapan orang tua, serta persaingan antar-lembaga pendidikan membuat sekolah tidak lagi cukup hanya mengandalkan nama besar maupun usia lembaga.
Karena itu, Yayasan Purnama mulai menyusun agenda pembenahan secara bertahap.
Penguatan kualitas sumber daya manusia menjadi salah satu prioritas. Guru dan tenaga kependidikan akan didorong untuk terus meningkatkan kompetensi, baik dalam metode pembelajaran maupun pemanfaatan teknologi pendidikan.
Selain itu, yayasan juga berencana memperkuat kurikulum dan program unggulan di masing-masing sekolah.
“Kita ingin setiap unit pendidikan mempunyai identitas yang kuat. SMP, SMA, maupun SMK Purnama harus memiliki keunggulan yang mudah dikenali masyarakat dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh peserta didik,” katanya.
Tidak Sekadar Bertahan
Bagi kepengurusan baru, tantangan terbesar Purnama bukan hanya mempertahankan keberadaan sekolah.
Lebih dari itu, yayasan ingin mengembalikan kepercayaan masyarakat melalui peningkatan kualitas layanan pendidikan.
Ade menilai sekolah yang memiliki perjalanan panjang harus mampu melakukan pembaruan tanpa kehilangan jati dirinya.
Karena itu, transformasi Purnama akan tetap berpijak pada nilai yang selama ini menjadi identitas yayasan, yakni Iman, Ilmu, dan Amal.
Nilai iman diarahkan menjadi fondasi pembentukan karakter dan moral peserta didik. Ilmu menjadi dasar pengembangan kecerdasan dan kompetensi. Sedangkan amal diterjemahkan sebagai orientasi pendidikan yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
“Nilai-nilai lama yang baik tidak boleh hilang. Justru nilai tersebut harus diperkuat dan dikontekstualisasikan dengan kebutuhan generasi sekarang,” ujar Ade.
Membuka Ruang Kolaborasi
Dalam proses pengembangan ke depan, Yayasan Purnama juga akan memperluas jejaring kerja sama.
Kolaborasi akan diarahkan dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha dan dunia industri, organisasi masyarakat, alumni, hingga orang tua peserta didik.
Khusus bagi SMK Purnama 1, kemitraan dengan dunia usaha dan industri dipandang penting agar pendidikan yang diberikan semakin dekat dengan kebutuhan kompetensi di lapangan.
Sementara pada jenjang SMP dan SMA, penguatan karakter, kompetensi akademik, teknologi, kreativitas, serta kesiapan peserta didik melanjutkan pendidikan akan menjadi bagian dari arah pengembangan.
Yayasan juga akan mengoptimalkan komunikasi publik dan media sosial agar masyarakat memperoleh informasi yang lebih terbuka mengenai aktivitas, program, prestasi, maupun perubahan yang sedang dilakukan.
“Kami ingin sekolah lebih dekat dengan masyarakat. Sekolah tidak boleh hanya aktif di dalam pagar sekolah. Harus ada komunikasi, kolaborasi, dan keterlibatan dengan lingkungan sekitar,” jelas Ade.
Regenerasi dan Amanah Pendiri
Kepemimpinan generasi penerus memberikan dimensi tersendiri bagi perjalanan Yayasan Purnama.
Sebagai cucu salah satu pendiri, Ade mengaku melihat tanggung jawab tersebut sebagai amanah untuk menjaga sekaligus mengembangkan lembaga yang dibangun oleh generasi terdahulu.
Menurutnya, bentuk penghormatan terbaik kepada pendiri bukan hanya mempertahankan nama Purnama, tetapi memastikan lembaga tersebut terus memberikan manfaat.
“Generasi pendiri telah meletakkan fondasinya. Tanggung jawab generasi sekarang adalah memastikan fondasi itu terus berkembang dan mampu menjawab tantangan zaman,” katanya.
Ia menilai setiap generasi memiliki tantangan yang berbeda.
Pada masa awal berdirinya, perjuangan lembaga pendidikan lebih banyak berkaitan dengan bagaimana menyediakan akses pendidikan bagi masyarakat.
Saat ini tantangannya berkembang menjadi persoalan mutu, inovasi, teknologi, kompetensi lulusan, pelayanan, serta kepercayaan masyarakat.
Menghadirkan Kembali Purnama
Selain melakukan pembenahan internal, Yayasan Purnama juga mulai membangun strategi untuk menghadirkan kembali nama Purnama secara lebih kuat di tengah masyarakat Kota Jambi.
Jaringan alumni akan kembali diperkuat. Hubungan sekolah dengan orang tua akan ditingkatkan. Kegiatan siswa, program sekolah, serta berbagai inovasi akan dikomunikasikan secara lebih aktif kepada publik.
Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari strategi membangun reputasi baru Purnama.
Yayasan berharap masyarakat tidak hanya mengenal Purnama sebagai sekolah yang memiliki sejarah panjang, tetapi sebagai lembaga pendidikan yang terus berkembang.
“Kami ingin masyarakat melihat perubahan itu secara nyata. Bukan sekadar melalui slogan, tetapi melalui kualitas pembelajaran, pelayanan kepada siswa dan orang tua, program sekolah, serta prestasi yang dihasilkan,” kata Ade.
Menjadikan Sejarah sebagai Modal Masa Depan
Lebih dari empat dekade perjalanan telah menjadikan Purnama sebagai salah satu bagian dari sejarah pendidikan di Kota Jambi.
Kini, tantangannya adalah bagaimana warisan tersebut dikembangkan untuk menghadapi masa depan.
Dengan tiga satuan pendidikan yang masih aktif, Yayasan Purnama memiliki modal kelembagaan yang dapat dikembangkan melalui pembaruan tata kelola, inovasi pembelajaran, penguatan sumber daya manusia, serta perluasan jejaring kolaborasi.
Bagi kepengurusan baru, perubahan tersebut tidak akan dilakukan secara instan, tetapi melalui proses bertahap dan terukur.
“Kami memahami bahwa membangun kembali kepercayaan membutuhkan proses. Karena itu, yang paling penting adalah konsistensi. Purnama harus terus bergerak, meningkatkan kualitas, dan menunjukkan hasilnya kepada masyarakat,” ujar Ade.
Purnama kini memasuki fase baru perjalanan panjangnya.
Dengan tetap membawa nilai Iman, Ilmu, Amal, yayasan tersebut ingin menjadikan sejarah bukan sekadar kenangan, tetapi sebagai modal untuk menatap masa depan pendidikan yang lebih kompetitif.
Dari sekolah yang telah hadir sejak 1979, Purnama kini bergerak menuju wajah baru: mempertahankan warisan, memperkuat kualitas, dan menyiapkan generasi masa depan.
(Red Amy)










